Trisno Sukses Membangun Desa Wisata Tanon, menjadi Desa Menari yang Digandrungi

Table of Contents


Trisno Sukses Membangun Desa Wisata Tanon, menjadi Desa Menari yang Digandrungi - Beberapa tahun lalu, jauh sebelum pandemi ada saya pernah mengunjungi desa yang berada di lereng gunung, namanya dusun Tanon. Akses jalannya lumayan susah dan menanjak. Tapi siapa sangka dibalik perjalanan yang jauh dan lika-liku tersimpan desa yang masih asri, sejuk, dan jauh dari polusi kota.


Trisno Sukses Membangun Desa Wisata Tanon, menjadi Desa Menari yang Digandrungi
Trisno Sukses Membangun Desa Wisata Tanon


 

Bagi yang menyukai ketenangan, saya menyarankan untuk singgah ke desa tanon, yang mana desa ini lebih dikenal dengan desa 'Menari'. Menari diambil dari kepanjangan menebar harmoni, merajut inspirasi dan menuai memori. Mengapa desa menari? Karena masyarakatnya masih memiliki jiwa seni yang tinggi, dimana leluhurnya pada jaman dahulu suka menari.

 

Sebelum desa menari bisa saya nikmati, pasti ada sosok atau figur dibalik layar yang mengembangkan desa ini menjadi begitu menarik dan ciamik. Ya, dialah Kang Trisno. Pemuda kelahiran 14 Oktober 1981, yang lahir di desa Tanon, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

 

Pria yang kini berusia 44 tahun tersebut berhasil mengubah kampungnya, menjadi kampung yang mandiri, terkenal, dan memberikan hiburan kepada orang lain yang ingin menikmati libudan ala ndeso.

 

 

Perjuangan Kang Trisno Membangun Desa Tanon menjadi Desa Menari

 

 

Pada suatu hari, hehehe ... memang benar alkisah di sebuah desa yang berada di bawah lereng gunung, hiduplah seorang pria yang cerdas dan baik hatinya. Ia merasa resah, karena desa tempat ia tinggal sudah dicap menjadi desa yang tertinggal dan miskin akan pendidikan. Orang-orang memilih merantau dan pergi, sementara yang lain tinggal dengan menjadi petani dan peternak.

 

Pemuda yang memiliki mata gemilang dan pemikiran cemerlang itu, ingin mengubah desanya menjadi desa yang mandiri. Ia terus memikirkan cara, agar desanya bis menjadi desa yang sejahtera. Maka ia membangun branding desanya dengan nama desa menari.

 

Dengan modal 200 ribu, ia berusaha membenahi desanya, ia membuat tempat duduk dari bambu, lantas ide-ide mulai ia terapkan. Ia ingin menyajikan sebuah hiburan, mengajak oranglain untuk menikmati masa-masa yang terlewati dan sudah mulai ditinggalkan. Trisno membangun desanya dengan desa yang menyajikan banyak permainan seru, dari enggrang, lesung jumengglung, cublak-cublak suwung, dan dolanan tradisional yang lainnya. Ah ... terharu saya bisa bermain dan menyaksikan permainan yang lama saya tinggalkan.

 

Saya juga bisa menikmati banyak permainan tari yang pertontonkan, ada tari Geculan Bocah, tari Lembu tanon, tari topeng, dan masih banyak lagi. Tarian yang diiringi dengan gamelan tersebut sangat saya nikmati, gemerincing bunyi lonceng yang dipakai penari juga menambah semarak suasana, pun penari sangat lincah mempertontonkan kemampuannya. Sungguh luar biasa.


Trisno Sukses Membangun Desa Wisata Tanon, menjadi Desa Menari yang Digandrungi
tari topeng di desa menari


 

Tidak berhenti di situ saja, saya juga diajak untuk menuju ke peternakan sapi, siapapun boleh belajar memerah sapi untuk mendapatkan susu segar. Selain itu banyak burung dara yang diternakan. Untuk sektor perkebunan, ada banyak cengkeh yang bisa dipetik untuk dijual lagi.

 

Sepak terjang Kang Trisno dalam membangun desanya berhasil, dan ia meraih penghargaaan SATU Indonesia Awards di tahun 2015. Ia membuat desa tertinggalnya menjadi desa terkenal, tidak hanya itu menjadi desa yang maju dan sejahtera para warganya.

 

 

Liburan ala Ndeso sempurna ya di Desa Menari

 


Jika ditanya liburan yang seru dan asyik dengan paket komplit, bisa jadi saya akan mengusulkan datang saja ke desa Menari bersama kawan atau keluarga. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, karena di desa Menari kamu akan belajar banyak hal.

 

Belajar mengenal kesenian iya, belajar permainan tradisional yang aman dan jauh dari pengaruh gadget iya. Belajar mengenal hewan dan memerah susu sapi, untuk mendapatkan susu segar, juga belajar bagaimana memetik cengkeh di perkebunan. Masih banyak hal lain yang bisa dinikmati, outbond ndeso juga ada, terus nginepnya nggak perlu di hotel tapi di rumah warga. Pengalaman yang tidak terlupakan akan anda dapatkan nih, di sini.

 

Siapa sangka bukan? Desa Menari yang dikunjungi banyak wisatawan ini dahulunya adalah desa tertinggal, miskin, dan minim pendidikan warganya. Kang Trisno berhasil memperjuangkan desanya menjadi desa yang luar biasa, desa sejahtera yang bisa mandiri dan justru menjadi contoh desa yang lain. Semoga perjuangan kang Trisno terus membuahkan hasil, dan lebih banyak lagi kreasi yang dipertontonkan dan potensi-potensi yang lain terus diasah. Terbukti dalam laman instagram desa menari, sudah banyak anak-anak sekolah yang melakukan liburan, belajar, study banding di sana.


Trisno Sukses Membangun Desa Wisata Tanon, menjadi Desa Menari yang Digandrungi
tari topeng desa menari


 

Ya pastinya Kang Trisno melewati ini semua tidak mudah, ada perjuangan berdarah-darah yang pastinya sangat membuatnya hampir menyerah, tapi ia terus bangkit dan menyemangati dirinya. Maka desa Menari bisa kita nikmati sekarang, adalah berkat usaha Kang Trisno membangun dari awal dengan uang 200 ribu rupiah.

 

 #APA2025-PLM

 

Post a Comment