Jaga Lahan Gambut Kita, karena sekali membara, keberagaman sumber pangan Tak Sampai Ke Piring Kita
POV-ku dulu sebagai anak makanan yang tersaji di meja makan, ya diolah oleh Ibu. Paling banter bahan makanannya di dapat dari beli di warung atau pasar. Ternyata tidak sesederhana itu setelah aku jadi Ibu. Makanan yang tersaji di atas meja makan, faktanya punya keterikatan erat dengan kondisi lahan gambut yang ada selama ini.
Nah, belum banyak yang tahu jika 34,2 juta hektar lahan gambut di Indonesia, yang 16,4 juta hektarnya rentan sekali terbakar. Tidak hanya bisa memicu karhutla, tapi juga rantai makanan bisa rusak karenanya serta mengancam kedaulatan pangan kita. Yang akhirnya tidak ada yang bisa kita olah untuk dimakan, jika itu terjadi terus menerus.
Ekosistem gambut menyimpan banyak kekayaan keanekaragaman hayati, yang mana perannya sangat penting untuk kehidupan masyarakat, khususnya di Indonesia raya ini sebagai penyedia berbagai sumber pangan.
Sayangnya masih banyak yang tidak sadar, atau bahkan sengaja membakar lahan gambut. Padahal itu bisa berakibat panjang. Tidak hanya lahan gambut terbakar, tetapi juga mengalami kerusakan. Ancamanny sangat banyak, bukan sekadar asap yang mencemari udara, tetapi juga hutan yang kehilangan kehijauannya, karbondioksida yang dibutuhkan banyak orang, dan parahnya habitat flora dan fauna yang akan terganggu keseimbangan ekosistemnya bahkan bisa punah. Semua itu akan kembali ke diri sendiri, terancamnya sumber pangan yang selama ini dikonsumsi. Tidak ada lagi pasokan, dan terjadilah bencana kelaparan. Fix, itu hal terparahnya.
Kalau kemarin Eco Blogger Squd membahas Mangrove, kali ini berkolaborasi dengan Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity dalam Online Gathering dengan tajuk, "Dari Gambut ke Meja Makan: Menelurusi Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan".
Alhamdulillah pada hari Jumat, 16 Oktober 2026 itu, makin terbuka pemikiran saya dan harus makin bertanggungjawab lagi dengan apa yang ada di sekitar, terutama lingkungan dimulai dari tempat tinggal. Eco Blogger Squad benar-benar diajak memahami berbagai hubungan segala kondisi, dari gambut, karhutla, sampai dampak terhadap biodiversitas.
Indonesia belum merdeka dari Karhutla
![]() |
| Jaga Lahan Gambut Kita, karena sekali membara, keberagaman sumber pangan Tak Sampai Ke Piring Kita |
Sudah lihat kan seberapa parah asap yang mencemari udara kemarin, yang wara wiri viral di media sosial? Faktanya Indonesia memang belum merdeka dari karhutla dan justru makin parah. Katanya Elnino yang jadi alasan, padahal bukan seperti itu. Dia hanya pendukungnya, fakta utama adalah karena alih fungsi dari lahan gambut yang tidak terkendali.
Harusnya kita bersyukur sekali, bahwa Indonesia merupakan rumah bagi ekosistem gambut tropis terbesar di dunia, dengan 24,2 juta hektare, yang tersebar, mulai dari Sumatera, kalimantan, dan Papua.
For your information, Gambut adalah ekosistem alami darat yang terbentuk, dari timbunan materi organik seperti pohon, rumput, dan hewan yang membusuk selama kurun waktu 10-40 ribu tahun yang lalu. Ia sejenis tanah basah yang miskin oksigen, tapi jadi tempat penyimpanan karbon alami terbesar di dunia.
Keungglan gambut mampu menyimpan air seperti spons, oleh karena itu bisa jadi banyak yang mengira bahwa gambut lahan yang tidak berguna. Padahal itu salah besar, gambut memiliki banyak sekali fungsi yang utama melindungi keanekaragaman hayatim menjaga perubahan iklim, serta menjaga pangan yang kita konsumsi setiap harinya. Banyak yang andil tidak bertanggungjawab, menganggap remeh lahan gambut bahwa itu tanah yang tidak memiliki fungsi atau tidak berguna sama sekali. Padahal mereka mengeringkan lahan gambut, kanalisasi untuk perkebunan dibuat sehingga lapisan mineral pirit (FeS2) bertemu dengan oksigen dan teoksidasi yang menghasilkan Asam Sulfat dan Asam Sulfida, yang mana jika tersebar bisa membuat tanaman dan binatang keracunan.
ketika kemarau panjang datang, gambut akan udah terbakar dan apinya sulit dipadamkan, karena di dalam tanahnya sudah dikeringkan. Maka asap melebar kemana-mana, dan ketika musim penghujan datang banjir tidak terhindarkan, seharusnya lahan gambut inilah yang mampu menterap air malah menghilang. Yang terjadi masalah kesehatan timbul saat kebakaran datang, ya asap mencemari pernapasan, ISPA, alergi, infeksi mata, masih banyak lagi. Karhutla inilah yang imbasnya juga berpengaruh terhadap isi piring kita.
Mengapa hestek yang EBS gaungkan ada #PeatlandIsNotWasteland? Ini adalah istilah dalam bahasa Inggris, yang artinya gambut bukan tanah kosong, bukan tanah tidur atau tanah yang tidak produktif. Namun ekosistem gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari akumulasi organik dan menyimpan karbon dengan jumalh dangat besar dalam meregulasi iklim. Lahan gambut mampu menyerap dan menyalurkan air sangat tinggi 100% - 1.300% dari bobot keringnya, dengan tingkat keasaman asam pH <4 dan memiliki prositas (berongga) dengan tinggi antara 70% - 90%.
Mengapa menyebabkan kebakaran tadi, gambut ini karena dikeringkan dan tidak bisa kembali semula, fungsinya berubah. Tim Pantau Gambut sudah menemukan kanalisasi yang berlebihan, jadi merusak hidrologis gambut. Dari 24,2 juta hektare, yang 16,4 hektare rentan terbakar. Panjang kanalnya sekitar 280.000 km atau setara bolak balik tol Transjawa sebanyak 120 kali.
Grafik bulan Januari sampai Agustus 2026 ini, ada kurang lebih 63 ribuan hekater sebaran area lahan gambut yang terbakar. Ada 41 kabupaten dan 9 provinsi menentapkan siaga darurat untuk karhutla. Dan 5 provinsi dengan angka kebakaran tertinggi, adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Riau.
Yoga Apriliano sebagai Communication Lead Pantau Gambut, juga menegaskan bahwa, "El Mino ini nbuan jadi penyebab utama, tapi jadi faktor pendukung yang membuat kebakaran ini jadi lebih besar".
Bagaimana Mengembalikan Diversifikasi Pangan?
Keanekarasaman pangan di Indonesia ini sangat luas, namun kita yang masih tergantung dengan beras atau nasi faktanya sumber karbohidrat kita sangat banyak dan bisa ditemukan dengan mudah. Bisa tumbuh di mana saja, termasuk di pekarangan rumah kita lho!
Dulu di depan rumah ada tanaman ubi, yang dikenal dengan nama "lung/lengguk", kami kaget ternyata ubinya jadi. Besar-besat, ada seukuran kelapa, dan beneran kami makan dengan cara direbus. Meski tidak semanis ubi madu, tapi rasanya bahagia bisa panen sendiri. Itu baru ibu, belum singkong, jagung, gembili, talas, kentang-kentangan dan masih banyak lagi dapat kita temukan mudah di pasar.
Banyak juga orang sekarang jualan kukus-kukusan, yang mana menjadi pengganti nasi dan justru jauh lebih mudah dikonsumsi dan aman untuk kesehatan. Apalagi kalau ada yang punya anak kecil mulai MPASI, wah butuh banget stok karbohidrat selain nasi di rumah. Soalnya bagus buat anak yang baru mengenal makanan. Nah gaes, kalau di rumah kamu, makanan apa yang biasa dikonsumsi sebagai pengganti karbohidrat?




Post a Comment