Ternyata Bisa Dimakan! Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat

Table of Contents


Raja Ampat, siapapun pasti mengenal pulau tersebut, pulau yang memiliki keindahan dan keanekaragaman hayati bawah laut yang luar biasa. Tetapi siapa yang menyangka bahwa dibalik pesona wisata tersebut ada benteng pertahanan ekologi dan pangan yang sangat penting yaitu 'ekosistem mangrove'.


Ternyata Bisa Dimakan! Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat
Ternyata Bisa Dimakan! Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat


 

ECO Blogger Squad berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF) dalam momentum Bangkok Climate Action Week mengadakan webinar bersama Bapak Daniel Kbarek dan Wawiyai Steve tentang pemanfaatan ganda mangrove yang bisa jadi pelindung hutan dan sumber pangan. Dengan pesan kuat yang memberikan saya perenungan panjang, bahwa "Menjaga hutan mangrove sejatinya adalah menjaga keberlangsungan sumber pangan masyarakat".

 
Mangrove merupakan jantung ekosistem dan lumbung pangan

 

 

Bersama Eco Blogger Squad dulu saya sempat melakukan penanaman mangrove, yang membuat saya kenal mangrove lebih dekat. Sementara webinar kemarin semakin menyadarkan dan saya belajar ekosistem mangrove punya banyak fungsi. Mulai dari akar mangrove, jadi tempat berlindung dan pemijahan para biota laut. Akar mangrove juga menjadi penyaring alami, dalam menjaga kejernihan air laut di Raja Ampat lho!

 

Sementara guguraanya daun manrove memberikan nutrisi (Deritus) bagi rantai makanan di perairan pesisir. Oleh sebab itu mengapa mangrove benar-benar harus dijaga, karena berkaitan juga dengan keberadaan ikan, udang, kerang-kerangan, kepiting bakau, dan lain sebagainya yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pangan.

 

Yang masyarakat umum tahu, bahwa keberadaan mangrove ya sebagai penahan abrasi supaya air laut nggak naik ke purmakaan sebagai fungsi ekologis semata. Padahal mangrove juga bisa dikembangkan sebagai bahan pangan, dari daunnya, buahnya, dan bijinya juga bisa jadi bahan pangan. Contohnya buah mangrove, bisa jadi tepung, minuman, atau juga camilan dan madu mangrove juga lho!

 

Nah pas di Hutan Mangrove yang pernah saya datangi, saya juga sempat mencicipi olahan buah mangrove, enak sekali. Bahkan ada olahan lulur untuk sebadan-badan, luar biasa pengembangannya. Coba bayangkan kalau mangrove rusak? Pastilah stok biota laut dan stok pangan lokal menjadi terancam.

 

Bagi masyarakat Kampung Friwen sendiri, mangrove bukan hanya bagian ekosistem pesisir, namun juga ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat. Bapak Steve mengemukakan bahwa kawasan mangrove di Raja Ampat sempat terdegradasi akibat ulah manusia, dari pengambilan kayu, pembangunan homestay serta resor di sana. Makanya masyarakat bergerak cepat untuk menjaga kawasan mangrove mereka, dari memetakan kawasan, mengenali jenis manrove, melakukan pembiitan, penanaman lagi dan sampai bisa dikembangkan menjadi bahan pangan lokal.

 

Mereka yang berperan besar dari pengelolaan Hutan di kampung Friwen adalah kelompok perempuan. Mereka terlibat semua hal, baik itu pengolahan mangrove, agroforestri, penjualan sampai dengan perlindungan mangrove. Kalau manfaatnya bisa didapatkan dengan luar biasa, maka menjaga alam adalah sebuah keharusan yang wajib dilakukan.

 

“Mangrove adalah napas bagi kehidupan masyarakat di pesisir.” - Bang Steve (Program Manager PKPRA)

 

 

Olahan Mangrove menjadi beragam produk pangan

 

 

Dari pengalaman mengunjungi hutan mangrove langung saya jadi tahu bahwa buah mangrove, ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk. Ditambah webinar kali ini bareng EBS, makin nambah pengetahuan saya soal buah mangrove. Bisa jadi tepung, minuman, sampai camilan.

 

Pada penggembangannya, jenis mangrove Bruguiera gymnorrhiza adalah jenis yang bisa menjadi bahan baku tepung. Sari buahnya juga bisa dikembangkan jadi minuman tradisional, bisa jadi kalo di Jawa seperti jamu. Dan olahan lainnya bisa menjadi kue, keripik, selai, acar, dan lain sebagainya, sementara turunannya juga bisa menjadi produk mie dan madu.

 

Menyadari bahwa di mana yang berlebihan itu tidak baik, masyarakat juga sadar bahwa tantangan dalam mengolah buah mangrove itu adalah menunggu buahnya jatuh secara alami. Maka tidak dipetik secara paksa, ketersediaannya tergantung pada musim dan buah yang jatuh.  

 

 

Dari Mangrove saya teringat dengan satu tanaman yang sering saya gunakan sehari-hari yaitu: Kecombrang

 

 

Salah saya sering melihat sesuatu dengan satu sisi, demikian juga dengan tanaman. Padahal mereka punya fungsi ganda, sama seperti dengan mangrove. Nyatanya tidak hanya ada satu, dua, tetapi banyak.

 

Tanaman kecombrang mungkin merupakan tanaman yang tidak begitu familier di tempat seseorang, tetapi di derah pantura, kecombrang menjadi salah satu bumbu yang wajib ada pada makanan khas daerah pantura yaitu : Megono.

 

Yang orang tahu kecombrang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan atau bumbu dapur. Nyatanya ebih dari itu tanaman ini punya manfaat ganda (dual-puprose plant).

 

Di bidang kuliner, bunga kuncup, batang muda, dan buah kecombrang yang khas akan aromanya bisa digunakan untuk campuran olahan makanan khas di daerah pantura, yaitu megono. Tidak hanya itu, bisa juga menghilangkan aroma amis pada olahan ikan atau daging.

 

Bagi yang suka dengan sambal, batang muda kecmbrang bisa digunakan sebagai sambal, yang banyak mengandung serat, vitamin C, kalium, kalsium, serta zat besi.

 

Sementara di bidang kesehatan atau non pangan, kecombrang dapat membantu menangkal radikal bebas serta meredakan peradangan atau panas dalam. Sari kecombrang yang sudah diperas dari pembakaran, juga bisa digunakan sebagai obat menurunkan demam tinggi pada seseorang. Air perasan dari getah batang semu kecombrang, juga dapat mengurangi bau badan serta mempercepat penyembuhan luka luar.

 

Saya jadi ngiler pengen memasak kecombrang, allhamdulillah di belakang rumah saya ada tanaman kecombrang yang ditanam Ibu. Jadi setiap kali saya kadang nggak ada lauk, tinggal petik dan di masak. Beberapa tetangga sering juga dicicipin oleh ibu, mereka kaget bahwa rasanya bisa seenak itu jika diolah menjadi sambal atau oseng-oseng yang dicampur dengan pindang serta udang.

 

 
Katahanan pangan ternyata ada di mana saja

 

Ketahanan pangan sering kita dengar melalui berita, kampanye-kampanye dan ternyata dekat sekali dengan kita. Apalagi di Raja Ampat ini, sungguh jadi tempat berlangsungnya mereka hidup. Tanaman yang saya kita hanya sebagai bahan masakan, ternyata menyimpan banyak potensi luar biasa pemanfaatannya. Seperti halnya mangrove, jika dilakukan secara bijak. Harapannya tidak berhenti pada satu generasi saja namun bisa berkelanjutan.

 

Dari webinar berama EBS ini cara pandang saya mulai terbuka, pengetahuan bertambah bahwa setiap daerah pasti punya cerita serupa. Bahwa banyak tanaman lokal yang sebenarnya kita anggap biasa, padahal peranannya untuk lingkungan besar dan jadi sumber penghidupan.

 

Nah teman, belajar dari Raja Ampat saya melihat kembali combrang, tanaman lokal yang biasa digunakan sehari-hari sebagai bumbu ternyata punya fungsi ganda. Tidak hanya bermanfaat untuk lingkundan tinggal, tetapi lebih dari itu sebagai obat penyembuh, lauk, dan sebagainya.

 

Yuk ceritakan nama tanamannya, dari mana asalnya, bagian mana yang dimanfaatkan, dan bagaimana biasanya masyarakat mengolahnya. Siapa tahu dari cerita sederhana tersebut, kita menemukan lebih banyak cara menjaga alam dan menjaga sumber pangan. Yang mana keduanya saling berkaitan. Saya membawa banyak pengetahuan dan pesan sangat mendalam dari cerita Raja Ampat, yang saya sederhanakan, "saat kita menjaga hutan dan lingkungan, sebenarnya kita juga sedang menjaga sumber pangan dan sumber kehidupan untuk masa depan."     

 

 

Post a Comment